Kamis, 12 Maret 2015

Renungkan wahai kawan



Pernahkah terfikir betapa kecilnya manusia yang ada di Bumi. Bahkan bisa dikatakan hampir tidak ada. Coba renungkan wahai kawan.

Rabu, 11 Maret 2015

Tetap Di Jalan Ini

Dia lelaki sederhana. Hanya seorang petani biasa di daerah transmigrasi. Pagi sampai siang dia bermesra dengan lahan pertaniannya. Menjelang Zuhur, dia sudahi ritualnya itu. Lalu bersegera menuju mushola kecil. Pakaian kebesarannya sudah diganti dengan baju taqwa yang hampir lusuh. Khusyuk sekali dia menghamba dalam 4 rakaat ketaatannya.
Usai itu, ~ini yg membuat diriku terhenyak saat mendengar kisah ini~ dirinya pun berubah menjadi manusia langit dengan menjad seorang murabbi bagi para mad`unya yang juga kumpulan orang-orang biasa yang hatinya tertambat ke langit.

Setiap pekan taman surga itu hadir hiasi rumah-Nya yang mungil itu. Berbilang tahun. Berbilang waktu. Dari halaqoh sederhana itu, atas keberkahan-Nya, salah satu mad`unya ada yang menjadi seorang aleg.

Subhanallahu... Setiap mengingat cerita itu, hati ini menangis haru. Tarbiyah telah merubah orang biasa menjadi orang luar biasa. Bermula dari sentuhan hati tuk berbagi hidayah. Dari sebuah catatan materi yang kadang menulisnya pun harus melihat dengan seksama karerna keterbatasan ilmu dan tidak terbiasa menulis arab. Dari sebuah tilawah Quran yang dibaca kadang terbata. Dari sebuah untaian tausiyah sederhana. Dan dari sebuah doa rabhitah yang terpanjat penuh ikhlas.

Rabb, tetapkan hati ini tuk selalu berada dalam shaf ini. Apapun yang terjadi. Jikalau ada yang keliru pada diri kami, bimbinglah selalu.

~Amin Agustin~

Selasa, 10 Maret 2015

Keajaiban Iman

Oleh Ust. Budi Hidayat

Sore kemarin (4/3/2015) saya silaturahmi kepada KH M Lizam Mh Sutrisno. Beliau Ulama Aswaja NU.Mantan komandan Banser Jateng.Masih muda, gagah. Walau sering mengeluh asam urat ( hehe... Sepurane Yi)
Beliau adalah salah satu gurunda saya dalam mengkaji kitab tasawuf Al-Hikam. Kadang kami mendiskusikan keindahan aforisme Ibnu Athoillah sampai berjam-jam.

Saat bertamu ke pesantren beliau di Hadipolo Kudus, saya mengajak Dokter Haryo Rhyo Orton Rose Cahyono.Dan kamipun berdiskusi santai dengan beliau di pendopo pesantren dengan pola "ngalor ngidul - balik wetan". Mengalir, akrab dan penuh canda.

Pak dokter yang masih lajang, selama diskusi dibully karena gak nikah-nikah. Akhirnya beliau melemparkan topik diskusi masalah doa dan rizki.

Kyai Tris kemudian bercerita kepada kami salah satu pengalaman hidupnya saat menikahkan anaknya. Saya belum minta ijin untuk menceritakan ini. Tapi karena memberi faedah kepada banyak orang, semoga beliau tidak keberatan. ....

"Sebulan sebelum hari H pernikahan anak saya. Tabungan saya habis. Uang 200jt yg sudah saya siapkan, terpakai untuk pembangunan pesantren dan keperluan yang tak terduga." Pak Kyai mengawali cerita.

"Untuk biaya pernikahan itu. Paling tidak dibutuhkan biaya120 jt, Mas... Karena harus menjamu banyak tamu. Waktu itu pas gak punya uang."

Saya yang ikut membayangkan jadi meringis. Karena Saya juga hadir dalam pernikahan itu. Dan tidak menyangka acara pernikahan yang besar itu menyimpan sebuah cerita.

Menjadi tokoh masyarakat dengan banyak kolega, berat juga kalo punya hajatan.

"Malamnya saya langsung mengadu kepada Alloh SWT. Diawali dengan zikir membaca surat Al-ikhlas sebanyak-banyaknya. Karena disana ada asma Alloh "Ash-shomad" (tempat bergantung). ". Setelah itu Pak Kyai berdoa pakai bahasa jawa kromo alus yang artinya :

"Duhai Rabb, semua rizki adalah milikmu. Hambamu merendah memohon bantuan-Mu. Agar mampu melaksanakan pernihan anak hamba. Hamba mohon rizki 120 juta.. "

Beberapa hari kemudian. Pak Kyai mendapat rejeki 5 jt dr transaksi bisnisnya. Malamnya pak kyai berdoa lagi.

"Duhai Rabb, saya berterima kasih Engkau memberi rizki kepada saya. Tapi 5 jt ini tidak cukup. Rizki ini saya kembalikan lagi. Mohon dibukakan rizki yg lebih besar".

Paginya Pak Kyai meminta istrinya membagikan 5 jt tersebut kepada orang yang membutuhkan. Awalnya Bu Nyai sempat protes. Tapi akhirnya beliau mentaati suaminya untuk menyedekahkan uang tersebut.

"AlhamduliLLAH, beberapa hari kemudian dapat rejeki 15 jt dari transaksi bisnis saya. Tapi karena masih kurang, uang 15 jt itu saya 'kembalikan' lagi kepada Alloh seperti sebelumnya."

Bu Nyai diminta menyedekahkan lagi uang 15 jt tersebut kepada yang membutuhkan, dan diminta jangan pulang sebelum habis dibagi. (Hihi... Kasihan Bu Nyai).

"Semakin mendekat hari H saya masih belum punya biaya...," ujar pak Kyai.

"Tapi H-6. Alhamdulillah bisnis yang saya jalankan dapat keuntungan 160 jt . Saya langsung memanjatkan doa syukur kepada Alloh SWT," kata Pak Kyai mengakhiri cerita.

"Pengalaman saya ini jangan ditiru mentah-mentah mas. Karena ini harus dibarengi keyakinan yang tinggi kepada Alloh. Serta ikhtiar lahir dan batin." Pesan Pak Kyai

Betapa Keimanan sering melahirkan banyak keajaiban.

يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ في نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً (رواه البخاري، رقم 7405 ومسلم ، رقم 2675 )

“Allah Ta’ala berfirman: 'Aku tergantung persangkaan hamba kepadaKu. Aku bersamanya kalau dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingatku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diriKu. Kalau dia mengingatKu di keramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka.

Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada diri-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari." (HR bukhari, no. 7405 dan Muslim, no. 2675) Sumber:PKS_Piyungan.org

Senin, 09 Maret 2015

Ketekunan Menuntut Ilmu

Oleh Zulfi Akmal Suatu kali dalam kesempatan kuliah tafsir tahlili dengan Prof. DR. Mani' Abdul Halim Mahmud, ketika saya masih kuliah tamhidi 1 di S2 Al Azhar, salah seorang teman Mesir mengangkat tangan ingin bertanya. Setelah dipersilahkan untuk bicara, ia bertutur:
Wahai duktur, aku ingin curhat. Demi Allah, semalam aku membaca tafsir Al Kasysyaf (Az Zamakhsyary), satu halaman sampai 2 jam. Tapi aku tidak bisa memahaminya. Demi Allah, aku bicara tanpa mubalaghah (hiperbola), betul-betul 2 jam aku baca satu halaman berulang-ulang, tapi tidak ada yang bisa aku pahami dari bacaan itu. Bagaimana ini ya duktur?

Dia menyampaikan pertanyaannya itu juga dengan berulang-ulang sebagaimana gaya orang Mesir, dengan nada yang kedengarannya seperti orang apatis.

Di luar dugaan, DR. Mani' malah menanggapi pertanyaan itu dengan santai saja.Sambil senyum dan ketawa-tawa kecil khas beliau, beliau berkata, "Memang itu yang diinginkan dari mahasiswa pasca sarjana yang akan menjadi seorang bahits (peneliti). Dia baca satu halaman kitab selama 2 jam". Selanjutnya DR. Mani' melanjutkan cerita dengan nostalgia beliau ketika dulu juga menempuh program S 2.

Kelihatan teman Mesir itu agak kesal dengan jawaban beliau. Sambil ngomel bicara tidak karuan ia duduk kembali.

Tapi bagi saya pertanyaan teman Mesir dan jawaban DR. Mani' itu betul-betul suatu hal yang luar biasa. Apa sebab? Karena saya mengalami hal yang persis sama dengan yang ditanyakan teman Mesir itu. Sebelum datang ke kuliah, saya juga sudah membaca kitab Al Kasysyaf selama 2 jam. Tapi satu halaman pun tidak rampung saya pahami.

Rasanya saat itu saya ingin segera keluar dan lari pulang ke rumah untuk mencoba kembali membacanya. Dalam pikiran saya, bagi teman Mesir saja begitu susah untuk memahinya, apalagi bagi saya. Jadi saya tidak mampu memahaminya bukan karena kebodohan, atau kelemahan saya bukan orang Arab, tapi itu hal biasa yang harus ditempuh oleh seorang penuntut ilmu. Proses yang mesti dilalui.

Betul saja, sesampai di rumah saya coba lagi membacanya dengan tenang dan semangat menggebu. Saya sampai memukul –mukul kepala sendiri, kok tadi tidak bisa paham? Ternyata sangat jelas dan mudah untuk dipahami.

Beberapa waktu kemudian saya dengar lagi pernyatan dari Prof. DR. Abdurrahman Ibrahim Khalifah, bahwa tafsir Zamakhsyary itu termasuk tafsir termudah untuk dipahami (Absathut Tafasir). Kalimat itu membuat image sulit di kepala saya semakin sirna.

Dari kejadian itu, paling kurang saya dapat 2 pelajar penting:

1. Sesuatu itu akan menjadi sulit bila di otak kita sudah terpaku kalimat "sulit". Kita sudah memandang berat dulu sebelum menghadapinya. Tapi bila kita hadapi dengan hati tenang dan semangat, ternyata mudah. Tidak sesulit yang dibayangkan.

2. Ilmu itu didapatkan harus dengan pengulangan yang sangat banyak, sampai ia lengket di dalam ingatan dan pemahaman. Seorang pelajar tidak boleh bosan membaca berulang-ulang dan mendengar berkali-kali.

Sudah menjadi fenomena biasa bila kita membaca biografi ulama-ulama klasik, kita akan menemukan cara belajar mereka yang sangat unik dan super tekun. Di antara contohnya:

Imam Al Muzani, murid Imam Syafi'i pernah berkata: "Aku baca kitab Ar Risalah karya Syafi'i 500 kali. Setiap kali aku mengulanginya, aku mendapatkan faedah baru yang belum aku dapatkan sebelumnya".

Abu Ishaq Asy Syirazy berkata: "Aku mengulangis setiap pelajaran 1000 kali".

Imam Ilkiya al Harrasy teman Imam Al Ghazaly menceritakan pengalamannya dalam belajar: "Di sekolah Sarhank di Naisabur terdapat 70 anak tangga menuju sebuah kali. Bila aku ingin menghafal pelajaran aku turun ke kali sambil mengulang pelajaran satu kali setiap anak tangga. Aku lakukan itu ketika naik dan turun. Seperti itu selalu yang aku lakukan setiap kali menghafal sebuah pelajaran".

Ada ratusan, bahkan ribuan kisah lagi yang menceritakan bagaimana cara orang-orang alim dulu belajar. Salah satu inti terpenting mereka belajar adalah dengan banyak mengulang.

Imam Bukhari yang mempunyai kekuatan hafalan yang sangat ajaib pernah ditanya oleh sekretaris beliau Abu Hatim al Warraq tentang, adakah obat yang bisa membantu menguatkan hafalan? Beliau menjawab: "Aku tidak tahu sesuatu yang lebih bermanfaat untuk hafalan selain keinginan yang sangat kuat dan pengulangan penuh ketelitian yang terus menerus".

Jadi, kehebatan hafalan ulama-ulama dulu itu bukanlah datang dari keajaiban, yang lengket secara otomatis seperti hardisk komputer. Tapi mereka mempunyai hafalan yang luar biasa setelah berusaha mengulangnya dengan jumlah yang tidak terbayangkan.

Bisa kita bandingkan, bagaimana dengan diri kita hari ini, yang sudah puas dengan membaca sebuah kitab sebanyak satu kali. Dan merasa bosan untuk mengulanginya kembali. Patutkah kita menisbahkan diri sebagai penuntut ilmu kalau kemauan kita baru segitu?

Ya Allah, tambahkanlah ilmu kami dan karuniakan kami ilmu yang lengket lagi bermanfaat. Ya Allah, ampuni dosa guru, masyayekh, asatidz dan semua orang yang pernah memberikan manfaat ilmu kepada kami. Sumber:PKS-piyungan