Sunday, December 20, 2015

Antara Yahudi dan Syiah, Mana Yang Lebih Berperan?

Oleh: Nugra Abu Fatah

SELAMA ini kita selalu terpatron dengan perspektif bahwa Yahudi selalu hebat. Khususnya dalam rekayasa sosial politik hingga militer (perang). Apapun masalahnya, selalu berperspektif Yahudi-sentris.

Tapi benarkah demikian? Saya mencoba membawa pada perspektif berbeda, tentang Syiah dan segala rekayasanya yang patut diketahui.

Kita tarik dari kondisi terkini lalu ke belakang ratusan tahun silam. Lihatlah dua negeri yang mengapit Iran, yakni Afghanistan dan Iraq, keduanya hancur lebur menjadi negara lemah karena isu Usamah Bin Ladin di Afghan dan nuklir di Iraq.

Dua isu yang sama sekali tidak ditemukan faktanya. Siapa yang menang? Amerika atau Iran? Amerika menghabiskan jutaan dolar tanpa hasil keuntungan selain mengamankan pasokan minyak yang sekarang surplus hingga harga minyak terjun.

Wednesday, March 11, 2015

Tetap Di Jalan Ini

Dia lelaki sederhana. Hanya seorang petani biasa di daerah transmigrasi. Pagi sampai siang dia bermesra dengan lahan pertaniannya. Menjelang Zuhur, dia sudahi ritualnya itu. Lalu bersegera menuju mushola kecil. Pakaian kebesarannya sudah diganti dengan baju taqwa yang hampir lusuh. Khusyuk sekali dia menghamba dalam 4 rakaat ketaatannya.
Usai itu, ~ini yg membuat diriku terhenyak saat mendengar kisah ini~ dirinya pun berubah menjadi manusia langit dengan menjad seorang murabbi bagi para mad`unya yang juga kumpulan orang-orang biasa yang hatinya tertambat ke langit.

Setiap pekan taman surga itu hadir hiasi rumah-Nya yang mungil itu. Berbilang tahun. Berbilang waktu. Dari halaqoh sederhana itu, atas keberkahan-Nya, salah satu mad`unya ada yang menjadi seorang aleg.

Subhanallahu... Setiap mengingat cerita itu, hati ini menangis haru. Tarbiyah telah merubah orang biasa menjadi orang luar biasa. Bermula dari sentuhan hati tuk berbagi hidayah. Dari sebuah catatan materi yang kadang menulisnya pun harus melihat dengan seksama karerna keterbatasan ilmu dan tidak terbiasa menulis arab. Dari sebuah tilawah Quran yang dibaca kadang terbata. Dari sebuah untaian tausiyah sederhana. Dan dari sebuah doa rabhitah yang terpanjat penuh ikhlas.

Tuesday, March 10, 2015

Keajaiban Iman

Oleh Ust. Budi Hidayat

Sore kemarin (4/3/2015) saya silaturahmi kepada KH M Lizam Mh Sutrisno. Beliau Ulama Aswaja NU.Mantan komandan Banser Jateng.Masih muda, gagah. Walau sering mengeluh asam urat ( hehe... Sepurane Yi)
Beliau adalah salah satu gurunda saya dalam mengkaji kitab tasawuf Al-Hikam. Kadang kami mendiskusikan keindahan aforisme Ibnu Athoillah sampai berjam-jam.

Saat bertamu ke pesantren beliau di Hadipolo Kudus, saya mengajak Dokter Haryo Rhyo Orton Rose Cahyono.Dan kamipun berdiskusi santai dengan beliau di pendopo pesantren dengan pola "ngalor ngidul - balik wetan". Mengalir, akrab dan penuh canda.

Pak dokter yang masih lajang, selama diskusi dibully karena gak nikah-nikah. Akhirnya beliau melemparkan topik diskusi masalah doa dan rizki.

Kyai Tris kemudian bercerita kepada kami salah satu pengalaman hidupnya saat menikahkan anaknya. Saya belum minta ijin untuk menceritakan ini. Tapi karena memberi faedah kepada banyak orang, semoga beliau tidak keberatan. ....

Monday, March 9, 2015

Ketekunan Menuntut Ilmu

Oleh Zulfi Akmal Suatu kali dalam kesempatan kuliah tafsir tahlili dengan Prof. DR. Mani' Abdul Halim Mahmud, ketika saya masih kuliah tamhidi 1 di S2 Al Azhar, salah seorang teman Mesir mengangkat tangan ingin bertanya. Setelah dipersilahkan untuk bicara, ia bertutur:
Wahai duktur, aku ingin curhat. Demi Allah, semalam aku membaca tafsir Al Kasysyaf (Az Zamakhsyary), satu halaman sampai 2 jam. Tapi aku tidak bisa memahaminya. Demi Allah, aku bicara tanpa mubalaghah (hiperbola), betul-betul 2 jam aku baca satu halaman berulang-ulang, tapi tidak ada yang bisa aku pahami dari bacaan itu. Bagaimana ini ya duktur?

Dia menyampaikan pertanyaannya itu juga dengan berulang-ulang sebagaimana gaya orang Mesir, dengan nada yang kedengarannya seperti orang apatis.

Di luar dugaan, DR. Mani' malah menanggapi pertanyaan itu dengan santai saja.Sambil senyum dan ketawa-tawa kecil khas beliau, beliau berkata, "Memang itu yang diinginkan dari mahasiswa pasca sarjana yang akan menjadi seorang bahits (peneliti). Dia baca satu halaman kitab selama 2 jam". Selanjutnya DR. Mani' melanjutkan cerita dengan nostalgia beliau ketika dulu juga menempuh program S 2.